Friday, 27 December 2013

Mangrove dan Pertamax

Hutan mangrove adalah ekosistem yang terus terancam kelestariannya. Diperkirakan 35% wilayah hutan mangrove dunia telah mengalami kerusakan. Di Indonesia, sekitar 38% kerusakan disebabkan oleh alih fungsi hutan menjadi tambak udang, sementara 14% bersumber dari praktik budidaya ikan yang lain. 
Dalam rangka memperingati hari lingkungan hidup dunia (World Environment Day 2013) saya beserta teman teman melalui ide dari komunitas GreenSmile melakukan aksi peduli mangrove, dengan cara menanam 15000 bibit mangrove di Kampung Garapan, Desa Tanjung Pasir, Teluk Naga, Tangerang. 
Lebih dari 700an sahabat dari berbagai kalangan hadir untuk berpartisipasi langsung dalam kegiatan ini. Fungsi dan manfaat kegiatan ini tidak lain yaitu untuk kehidupan yang lebih baik  dimana Indonesia adalah satu-satunya negara dengan wilayah hutan mangrove terluas yaitu mencapai 27.072 km2 (19.5% dari total wilayah hutan mangrove dunia). Hutan mangrove memiliki fungsi menjadi penjaga keanekaragaman hayati, melindungi wilayah pantai dari gelombang air laut dan tempat berkembang biak ikan di sepanjang garis pantai dan lepas pantai. Hutan mangrove juga lebih efektif dalam menyimpan karbon.
Walau luas hutan mangrove hanya 0.7% (sekitar 140.000 km2) dari luas hutan tropis dunia, hutan mangrove mampu menyimpan emisi karbon dioksida hingga 20 miliar ton (20 Pg C) atau 2,5 kali lipat lebih banyak dari emisi CO2 yang dihasilkan dunia setiap tahun, dan upaya menghindari emisi CO2 dengan menjaga kelestarian hutan mangrove bisa dilakukan dengan biaya antara US$4-10 per ton CO2 – relatif lebih murah jika dibandingkan upaya yang sama pada hutan tropis lain yang mencapai US$10-20 per ton CO2.
Jika mangrove dijaga kelestariaannya, kemampuan ini akan terus meningkat, namun jika tren kerusakan hutan mangrove saat ini terus berlanjut, maka potensi akumulasi penyimpanan karbonnya akan musnah.  dengan menanam mangrove saja kita bisa menyimpan emisi karbondioksida hingga 20 miliar ton dan bisa terus menjaga kelestarian lingkungan kita.

Berbicara tentang mangrove sudah pasti kita tahu betul arti pentingya lingkungan kita untuk masa sekarang dan masa depan, karena ketika kita habis menanam, bukan berarti ditinggalkan begitu saja, akan tetapi harus ada yag menjaga dan merawatnya supaya mangrove itu sesuai dengan fungsinya yaitu menjaga ketahanan lingkungan. 

Perhatian terhadap lingkungan bukan saja dengan mangrove, masih banyak cara alternatif yang bisa kita lakukan, salah satu caranya yaitu dengan kita menggunakan BBM non subsidi atau PertamaxIND, jika ada 1 juta orang di Indonesia yang beralih dari PREMIUM ke PertamaxIND, berarti kita sudah menyelamatkan 1 juta lingkungan disekitar kita.


Alasannya adalah

Pertamax bisa menyelamatkan lingkungan Indonesia, tapi apa kaitannya dengan mangrove ?? antara Pertamax dengan mangrove memiliki keterkaitan yang sama dalam hal lingkungan, tujuannya yaitu untuk menciptakan kehidupan dan lingkungan yang lebih baik.


Bila mangrove dikaitkan dengan penggunaan pertamax tentu ada beberapa persamaan terhadap keduanya. persamaanya adalah PertamaxIND dan mangrove sama-sama saling menjaga keseimbangan alam
. Mari kita lihat  fungsi dari mangrove dan Pertamax, keduanya memiliki fungsi persamaan yang saling menguntungkan, diantaranya yaitu:  
  1. Mangrove dan Pertamax berfungsi sebagai penjaga kestabilan, dari mangrove yaitu menjaga kestabilan garis pantai dan kokoh dari abrasi laut, sedangkan dari pertamax yaitu kestabilan performa mesin.
  2. Mangrove dan Pertamax sebagai penambah devisa negara,  Komposisi hutan mangrove sangat identik dan tidak dapat dijumpai pada hutan lainnya. Keunikan-keunikan dari masing-masing tanaman inilah yang menjadi daya tarik tersendiri bagi orang-orang luar negri. Aspek wisata sangat digemari pada Hutan Mangrove, sedangkan dengan memakai pertamax berarti kita memberikan pemasukan terhadap negara, sehingga perekonomian negara juga ikut terbantu dengan kita memakai pertamax.
  3. Mangrove dan Pertamax lebih efisien, mangrove ada upaya menghindari emisi CO2 dengan menjaga kelestarian hutan mangrove bisa dilakukan dengan biaya antara US$4-10 per ton CO2 – relatif lebih murah jika dibandingkan upaya yang sama pada hutan tropis lain yang mencapai US$10-20 per ton CO2, sedangkan pertamax Jika dilihat dari ukuran harga, bahan bakar ini memang lebih mahal dibandingkan dengan Premium. Namun, jika dilakukan dengan benar, ternyata memberikan keuntungan yang lebih besar dibandingkan dengan biaya yang dikeluarkan.
  4. Mangrove dan Pertamax sebagai pelindung, mangrove berfungsi sebagai pelindung dari abrasi air laut, juga kerapatan dari hutan mangrove dapat mengurangi kecepatan dan debit air laut yang masuk kedaratan saat terjadi tusnami, sedangkan pertamax adanya Corrotion Inhibitor, yaitu pelindung anti karat pada dinding tangki, saluran bahan bakar dan ruang bakar mesin sehingga mesin menjadi awet dan terlindungi. 
melihat kesamaan fungsi diatas bisa disimpulkan bahwa dengan mengetahui semua informasi tersebut, penduduk dan negara bisa memperoleh manfaat ganda yaitu manfaat ekonomi melalui pasar karbon dari mangrove, pemasukan devisa terhadap negara, hemat serta efisien dan peluang ekologis guna mempromosikan konservasi hutan mangrove dan keanekaragaman hayati yang ada di dalamnya serta mempromosikan ke masyarakat yang mampu untuk beralih menggunakan bahan bakar pertamax.
"Better Life with Pertamax for Better Indonesia"





Tulisan ini di ikutsertakan dalam lomba blog #ApaIdemu persembahan dari PertamaxIND


POLA PIKIR dan GAYA HIDUP

 Tulisan ini di ikutsertakan dalam lomba blog #ApaIdemu persembahan dari PertamaxIND

Sampah telah menjadi sebuah permasalahan di Indonesia. Bukan hanya kota-kota besar, kota-kota kecil pun semakin hari semakin dipusingkan dengan sampah dan pengelolaannya. Semakin hari, sampah bukannya semakin berkurang justru sebaliknya semakin menumpuk dan bertambah. Apa sebab?. Mungkin pola pikir kita yang perlu dibenahi. Atau gaya hidup kita yang musti dirubah.

Gaya hidup kita memang sangat akrab dengan sampah. Masih dapat kita ingat ketika Pemkot Bandung begitu putus asanya menghadapi permasalahan sampah beberapa waktu kemarin. Juga ketika Sudin Jakarta Timur kewalahan membersihkan sampah yang volumenya mencapai 6.716 m3 perhari meskipun sudah ditopang oleh 211 unit kendaraan pengangkut sampah dan 120 Tempat Pembuangan Sampah (TPS).
Jangan Buang Sampah Pada Tempatnya. Kita masih terperangkap dengan pola pikir bahwa sampah harus dibuang. Sejak kecil, orang tua kita, bahkan guru di sekolah selalu berpesan; “Buanglah sampah pada tempatnya”.

Pola pikir yang semacam ini sudah semestinya kita tinggalkan. Haruslah kita sadari apa yang terjadi dengan sampah kita setelah dibuang ke luar rumah, apakah seluruh sampah tersebut langsung hilang ditelan bumi?. Dan apa jadinya jika kita dan seluruh warga kota terus menghasilkan sampah? Apakah lahan di kota akan cukup menampung seluruh sampah kita?
Gaya hidup dan pola pikir kita terhadap sampah dan pengelolaannya musti dibenahi atau bahkan dirubah. Jangan lagi menuliskan kalimat “Buanglah sampah pada tempatnya” karena itu terbukti tidak menyelesaikan permasalahan sampah.

Namun, yang harus kita lakukan terhadap sampah yaitu harus dikurangi atau daur ulang, mengurangi sampah yang kita hasilkan bisa dilakukan dengan, membawa kantong belanjaan sendiri atau meminum minuman langsung dari gelas tanpa sedotan plastik. Proses daur ulang, sampah ternyata bisa dimanfaatkan menjadi keuntungan, daur ulang sampah ini padahal dari prosesnya itu bisa menjadi barang bernilai manfaat yang mempunyai daya jual tinggi . Tapi, ketika kita tidak mempunyai kesempatan untuk melakukan daur ulang, paling tidak kita bersedia memilah sampah yang dapat didaur ulang dan memberikannya kepada para pengumpul daur ulang.

Dari pola pikir dan gaya hidup terhadap sampah, kita pun harus merubah pola pikir serta gaya hidup kita terhadap penggunaan bahan bakar, salah satunya yaitu dengan kita beralih menggunakan PERTAMAX.
Untuk menjaga kelestarian energi, salah satu langkah yang dapat di ambil adalah dengan menjadikan Pertamax sebagai bahan bakar kendaraan kita menggantikan Premium. Karena dengan menggunakan Pertamax berarti kita telah mengefisienkan 30% penggunaan bahan bakar. Yang berarti kita telah menyumbang 30% bahan bakar untuk dilestarikan.

Pertamax dapat melekat sebagai gaya hidup dengan sebenar-benarnya apabila telah tumbuh kesadaran dari diri kita untuk merestrukturisasi pemikiran. Bukan karena ada rayuan orang lain, bukan karena iming-iming hadiah, tetapi karena kita sadar bahwa Kita adalah Energi. Dan energi bukan hanya di ciptakan untuk manusia generasi sekarang, tetapi juga untuk keberlanjutan generasi manusia dan masa depan lingkungan.
Demi keberlanjutan manusia dan masa depan lingkungan, maka ada beberapa langkah nyata menjadikan Pertamax sebagai gaya hidup kita antara lain :

1.    Menanamkan Budaya Malu Menggunakan Premium

Premium hanya untuk golongan tidak mampu. Untuk itu kita harus membudayakan malu untuk menggunakan premium. Karena menggunakan premium berarti sama saja dengan mensejajarkan diri kita dalam golongan tidak mampu. Sebelum kita membeli premium ada baiknya kita berkaca diri, jika kita berpakaian bagus plus menggunakan mobil sedan, apa kata dunia ? bila kita ikut antrian premium.

2.    Bangga Menggunakan Pertamax

Tanamkan diri untuk bangga menggunakan Pertamax. Jika ada stiker Pertamax, tempelkan stiker itu di kendaraan anda dan jika ada yang bertanya apa bahan bakar kendaraan anda, jawablah dengan lantang “Pertamax”. Jangan dengarkan suara-suara sumbang yang mencibir Anda. Karena mereka tidak mengetahui apa yang telah anda ketahui.

3. Gaya Hidup Anak Muda dan Pertamax


Berkembangnya budaya urban telah menjadikan kegiatan bersenang-senang sebagai favorit anak muda, sehingga masalah energi di anggap sebagai sesuatu yang sudah seharusnya demikian dan tidak memerlukan kepedulian dari mereka. Umumnya anak muda ini menggunakan kendaraan untuk bersenang-senang, dan parahnya lagi mereka terkadang membuat antrian panjang untuk mengalirkan premium ke tangki kendaraan mereka, yang kemudian di gunakan untuk di boroskan.

Beberapa hal yang dapat dilakukan oleh Pertamina untuk membuat anak muda beralih dari premium ke Pertamax adalah sebagai berikut :
1.    Duta Pertamax
Pertamina harus mempunyai Duta Pertamax yang menjadi idola anak muda, bisa dari kalangan olahragawan seperti Valentino Rossi, kalangan musisi ataupun mungkin artis/selebritis anak muda. Lebih baik lagi bila Duta Pertamax tersebut mempunyai rata-rata umur 15 – 20 tahun. Duta ini berperan untuk mengajak anak muda untuk beralih ke Pertamax.
2.    Sponsor Acara Anak Muda
Pertamina dapat menjadi sponsor utama dalam acara-acara anak muda seperti lomba otomotif, modifikasi, ataupun festival musik.

Dari perubahan pola pemikiran dan gaya hidup dari Sampah serta Pertamax ternyata mempunyai keterikatan yang kuat dalam masa depan lingkungan dan energi. Dengan menggunakan Pertamax dan mengurangi atau mendaur ulang sampah sebagai bagian dari gaya hidup, berarti kita telah melakukan sesuatu yang berguna bagi kelangsungan lingkungan, energi dan bumi. "Better Life with Pertamax for Better Indonesia".  #ApaIdemu??

 

Referensi penulisan dan gambar
informasi menarik seputar Pertamax follow twitter nya PertamaxIND dan like FP Facebooknya PertamaxIND


Sunday, 23 June 2013

ADA APA DENGAN AKTIVITAS KITA ??


TAHUKAH ANDA? 
Bahwa masing-masing dari kita turut menyumbang terhadap meningkatnya dampak pemanasan global dan perubahan iklim!! aktivitas kita sehari-hari ternyata mengeluarkan emisi karbon, mulai dari penggunaan sumber listrik hingga pemakaian jenis transportasi. WOW, mengapa bisa begitu? karena sebagian besar sumber energi kita berasal dari bahan bakar fosil. Sementara penggunaan bahan bakar fosil dikategorikan ke dalam slah satu penyebab meningkatnya emisi gas rumah kaca atau yang bisa disebut dengan pemanasan global (Global Warming). Setiap penggunaan energi konvensional dari bahan bakar fosil ( mis, konsumsi Listrik, gas dan bensin ) menghasilkan emisi gas rumah kaca.


Waah, bahaya sekali yah ternyata segala aktivitas yang kita lakukan, tanpa kita sadari ternyata masing masing dari kita membuat lingkungan semakin rusak, kalau satu hari ada 20 juta orang di Jakarta melakukan seperti aktivitas tersebut (konsumsi Listrik, gas dan bensin ) secara berlebihan atau boros, berarti telah terjadi 20 juta kerusakan lingkungan!!

Lantas apa yang harus kita lakukan ??

Memang sekarang itu tidak langsung bisa dirasakan efeknya, tapi akan terjadi di masa yang akan datang, yang berarti anak cucu kita sendiri nantinya yang akan sangat merasakan perubahan iklim dan lingkungan dari apa yang sekarang kita lakukan. Nah, sebelum semuanya terlambat, saya, anda, dan kita semuanya masih punya waktu dan masih ada cara lain untuk menghentikan dan mencari solusi terbaik dari semua itu, solusinya adalah melakukan penghematan energi (efisiensi energi) dan mulai beralih kepada pemanfaatan energi terbarukan.

penghematan energi dan pemanfaatan energi terbarukan merupakan salah satu solusi jitu dan langkah yang tepat untuk kita, terutama bagi yang menggunakan kendaraan pribadi baik itu motor ataupun mobil, caranya yaitu mari kita beralih menggunakan PERTAMAX.


dari sudut pandang  lingkungan, penggunaan Pertamax sangat disarankan sekali. Kenapa? karena pertamax membuat pembakaran lebih ramah lingkungan. Dengan kandungan bioetanol sebesar 5% maka emisi atau gas buang yang berbahaya bagi lingkungan dapat di kurangi, Dengan demikian, menggunakan Pertamax juga berarti kita ikut serta dalam usaha mengurangi efek rumah kaca, sehingga dapat menciptakan lingkungan yang lebih baik untuk kehidupan yang lebih baik. 

"Aku bangun di pagi hari bertanya pada diri sendiri apa yang bisa saya lakukan hari ini, bagaimana saya bisa membantu dunia saat ini. Saya percaya pada apa yang saya lakukan di luar bayangan sebuah doubt.i memberikan kata-kata saya ke pohon ini dan kepada semua orang bahwa kaki saya tidak akan menyentuh tanah sampai aku telah melakukan segalanya dalam kekuasaan saya untuk membuat dunia menyadari masalah ini dan untuk menghentikan kehancuran"
(Julia Butterfly Hill Environmentalis yang menghabiskan 738 hari tinggal di pohon untuk menyelamatkan hutan pertumbuhan) 
Mulailah dari sekarang aksi kita untuk peduli terhadap lingkungan dan hematlah energi  selagi anda bisa berhemat karena tiba kalanya energi itu mahal dan tidak bisa di hemat!! 

Ini Ide ku mana dan #ApaIdemu ??
(Better Environment for a Better Life)
@PertamaxIND  









Saturday, 15 June 2013

Temu Alumni Akbar SMA N 89 Jakarta sekaligus Buka Puasa Bersama

Assalamualaikum Wr Wb

apa kabar nya semua teman-teman seperjuangan dikala masa SMA, sudah 4 tahun kita berpisah meninggalkan SMA N 89 Jakarta, pastinya sekarang sudah banyak sekali dari teman teman semua yang sudah lulus kuliah, sudah bekerja, lagi pusing dengan tugas akhirnya, bahkan sudah ada yang menikah dll

tentunya dari teman teman semua ada perasaan kangen ingin bertemu teman-teman kelasnya baik di IPA atau IPS, ingin bertemu bapak/ibu guru yang telah berjasa mendidik teman2 semua selama 3 tahun, maka dari itu gw (Hariry) mewakili angkatan 2009 ingin mencoba mengumpulkan kalian semua dalam satu acara AKBAR, yaitu "TEMU ALUMNI AKBAR SMA N 89 JAKARTA SEKALIGUS BUKA PUASA BERSAMA" yang Insyaallah akan dilaksanakan pada hari SABTU 20 JULI 2013 (dinget-inget atau dicatet baik-baik, kosongin acara teman teman semua pada tanggal 20 JULI 2013 )

berdasarkan hasil rapat dengan teman teman angkatan lainnya, telah ditentukan beberapa poin yang WAJIB temen temen semua ketahui, antara lain yaitu :
1. untuk (Lulusan tahun 06-13) dikenakan biayanya Rp 35000
2. biaya Rp. 35. 000 itu sudah termasuk apa aja sih ??? insyaallah berkah dan bermanfaat banget

    - Makan ketika berbuka puasa
    - souvenir
    - sumbangan untuk anak yatim piatu 10 juta rupiah (kesempatan untuk amal terbuka lebar) 
    - bagi teman-teman yang ingin membayar lebih sangat di harapkan sekali atau ada sanak  
      keluarga, saudaranya ada yang ingin menyisihkan sebagian rezekinya, ALHAMDULILLAH

3. Akan di adakan DOORPRIZE dengan berbagai hadiah menarik pada saat acara
4. Akan di adakan nominasi jumlah angkatan terbanyak yang MENDAFTAR dan IKUT SERTA dalam acara bukber ini dengan hadiah PIALA BERGILIR yang akan di perebutkan oleh tiap angkatan. So, Bring your fellas as many as you can!!! (makanya harus pada hadir nih kalau mau dapet piala)
5. tidak harus yang MUSLIM, Non MUSLIM boleh hadir 
6. tentunya acaranya sendiri INSYAALLAH pada SABTU 20 JULI 2013 

7. Ramaikan, semarakan acara ini dengan hadirnya angkatan 2009 dan sampaikan kepada teman 
 teman yang lain melalui berbagai macam media 

setelah penjelasan diatas, sekarang kebagian penting, bagaimana metode pembayarannya
1. transfer bank Bank BRI 0382-01-010569-50-9 a.n Hariry Anwar ( bagi yg melakukan pembayaran ini setelah transfer harap mengkonfirmasi segera dan harus ada bukti transfer kirim via email, BB, Whatsapp)
  - email : anwarhariry@gmail.com
  - pin BB : 29974D36
  - WA : 081287557142/ 081932148660
2. ketemu langsung *dikondisikan harinya
3. pembayaran kolektif, maksudnya diantara temen-teman ada yg mengkoordinir dari masing-masing teman
sekelasnya baik IPA atau IPS, setalah itu baru diserahkan ke saya berserta nama nama orangnya.
4. siapa yang bersedia jadi koordinator msing masing kelasnya bisa hubungi saya
   12 IPA 1  : Hariry Anwar ---> 081287557142 atau 081932148660
   12 IPA 2  : ?
   12 IPA 3  : ?
   12 IPA 4  : ?
   12 IPS 1  : ?
   12 IPS 2  : ?
   12 IPS 3  : ?
5. infromasi terbaru kan di update :)
6. berminat silahkan daftar kesini http://bit.ly/10kCxNd


sampaikan informasi ini keteman teman yang lainnya yah, tolong di bantu teruskan atau tag ke temen2 di FB, twitter dll

Bioetanol Bahan Bakar yang Ramah Lingkungan

Rasanya sudah jemu para pemerhati lingkungan dan ilmuwan mengingatkan bahwa bahan bakar fosil merupakan bahan bakar yang tak bisa diperbarui, juga tidak ramah lingkungan. Selain terancam punah, bahan bakar jenis ini dikenal pemicu polusi udara nomor satu. BBM yang dipakai kendaraan bermotor saat ini menghasilkan zat beracun seperti CO2, CO, HC, NOX, SPM dan debu. Kesemuanya menyebabkan gangguan pernapasan, kanker, bahkan pula kemandulan.

Pemerintah harus memberi perhatian khusus pada pengembangan sumber energi bahan bakar alternative ramah lingkungan. Bahan bakar macam inilah yang kita kenal dengan sebutan bioetanol. Indonesia berpotensi sebagai produsen bioetanol terbesar di dunia.

Bioetanol adalah sebuah bahan bakar alternatif yang diolah dari tumbuhan, dimana memiliki keunggulan mampu menurunkan emisi CO2 hingga 18 %. Di Indonesia, minyak bioethanol sangat potensial untuk diolah dan dikembangkan karena bahan bakunya merupakan jenis tanaman yang banyak tumbuh di negara ini dan sangat dikenal masyarakat. Menurut Dr. Ir. Arif Yudiarto, periset di Balai Besar Teknologi Pati. Ada 3 kelompok tanaman sumber bioetanol: tanaman yang mengandung pati (seperti singkong, kelapa sawit, tengkawang, kelapa, kapuk, jarak pagar, rambutan, sirsak, malapari, dan nyamplung), bergula (tetes tebu atau molase, nira aren, nira tebu nira surgum manis) dan serat selulosa (batang sorgum, batang pisang, jerami, kayu, dan bagas).

Seluruh bahan baku itu semuanya ada di Indonesia. Bahan yang mengandung pati, glukosa, dan serat selulosa ini bisa dimanfaatkan sebagai bahan bakar. Baru segelintir produsen Indonesia mencetak keuntungan dari proses nilai tambah bioethanol ini, padahal banyak perusahaan seperti PERTAMINA, pabrik kosmetik, parfum, farmasi, dll. sangat membutuhkan dan siap menampung dalam jumlah berapapun produk bioethanol ini, jadi potensi kedepan sangat “menjanjikan dan tidak akan pernah mati”. 

Keuntungan lain dari bioetanol adalah nilai oktannya lebih tinggi dari premium atau setara dengan PERTAMAX (ON) 92 sehingga dapat menggantikan fungsi bahan aditif, seperti Metil Tertiary Butyl Ether (MTBE) dan Tetra Ethyl Lead (TEL). Kedua zat aditif tersebut telah dipilih menggantikan timbal pada premium. Etanol absolut memiliki angka oktan (ON) 117, sedangkan premium hanya 87-88.

Secara teori, semua kendaraan yang beroperasi dengan bahan bakar akan mempunyai nilai ekonomi bahan bakar yang satuannya adalah liter per 100 kilometer. Nilai ekonomi bahan bakar ini biasanya berbanding lurus dengan energi yang terkandung dalam bahan bakar. Tapi, pada faktanya ada banyak variabel yang dapat mempengaruhi performa bahan bakar di dalam mesin. Etanol sendiri memiliki energi per unit volume 34% lebih rendah daripada bensin. Maka, teorinya adalah jika memakai bahan bakar etanol, maka jumlah bahan bakar yang dikonsumsi akan lebih boros 34% daripada bensin biasa. Tapi etanol memiliki kelebihan lain yaitu nilai oktan yang tinggi, maka mesin dapat dibuat lebih efisien dengan cara meningkatkan rasio kompresinya hal ini sama dengan kita menggunakan PERTAMAX dengan nilai oktan yang tinggi, Pertamax merupakan suatu bahan bakar bensin yang tidak menggunakan campuran timbal dan metal lainnya yang sering digunakan pada bahan bakar lain untuk meningkatkan nilai oktan sehingga Pertamax merupakan bahan bakar yang sangat bersahabat dengan lingkungan sekitar.


Jadi bisa kita simpulkan Bioetanol dan pertamax merupakan bahan bakar yang ramah lingkungan, selain mengurangi efek polusi timbal karena pertamax dan bioetanol kandungan timbalnya sangat sedikit dibanding premium, hal ini tentu akan berdampak baik untuk mengurangi emisi gas buang kendaraan

Ini Ide ku mana dan #ApaIdemu ??
(Better Environment for a Better Life)
@PertamaxIND  


Monday, 20 May 2013

Toilet Duduk vs Toilet Jongkok



Oleh : dr. Salma Oktaria

Klikdokter.com - Dewasa ini, banyak orang lebih memilih menggunakan toilet duduk dibandingkan toilet jongkok. Sengaja berlama-lama duduk di toilet sambil membaca surat kabar pagi hari bukan lagi kebiasaan yang aneh untuk dilakukan. Namun seperti halnya kebiasaan lain, kebiasaan membaca dalam toilet juga memiliki dampak yang tidak baik, terutama kaitannya dengan kesehatan.


Mungkin banyak di antara Anda yang telah mengetahui kaitan antara kebiasaan mengejan dengan pembentukan hemorrhoid atau wasir. Namun tahukah Anda bahwa postur tubuh saat di toilet ternyata juga merupakan salah satu faktor penting yang mempengaruhi?

Secara definisi, hemorrhoid atau wasir adalah pembengkakan dan peradangan pada pembuluh darah balik (vena) pada daerah rektum atau anus. Kondisi ini tergolong jarang ditemukan di sebagian besar wilayah Asia, Timur Tengah dan Afrika. Namun sebaliknya, kondisi ini justru sering ditemukan di negara-negara Barat. Di Amerika misalnya, sekitar setengah dari populasi akan mengalami hemorrhoid sebelum mencapai usia 50 tahun. Mengenai hal ini, banyak peneliti yang berpendapat bahwa rendahnya insiden hemorrhoid di negara-negara berkembang adalah terutama terkait dengan konsumsi bahan makanan tinggi serat. Akan tetapi hal ini masih belum dapat dibuktikan melalui penelitian, mengingat beragamnya bahan makanan yang tersedia saat ini, yang jenis dan jumlah konsumsinya tidak selalu sama.

Setelah ditelaah lebih lanjut, ternyata perbedaan insiden hemorrhoid tersebut terjadi bukan tanpa alasan, yaitu terkait dengan penggunaan toilet duduk. Pada toilet ini, pengguna akan dipaksa mengejan untuk mendorong gerakan usus. Kebiasaan mengejan dapat meningkatkan tekanan dalam perut dan merupakan salah satu faktor yang mendasari terbentuknya hemorrhoid.

Hal ini secara tidak langsung telah menjelaskan mengapa insiden hemorrhoid hampir tidak pernah ditemukan pada populasi Asia, Afrika, dan Timur Tengah, di mana kebanyakan dari para penduduknya masih menggunakan toilet jongkok untuk memenuhi panggilan alam mereka. Studi yang dilakukan oleh Dr. B. A. Sikirov pada tahun 1987 telah membuktikan kebenaran hipotesa ini. Dari penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa hemorrhoid adalah sebuah hasil dari proses iritasi yang berkesinambungan akibat kebiasaan mengejan berlebihan dalam posisi duduk. Atau dengan kata lain, kebiasaan duduk yang terlalu lama dalam toilet merupakan salah satu faktor penting dalam pembentukan hemorrhoid yang tidak boleh dianggap remeh.

Mengapa demikian?
Saat posisi duduk, usus bagian bawah akan tertekuk sehingga proses pembuangan tidak dapat berlangsung efektif tanpa bantuan mengejan. Padahal, mengejan dan dorongan ke bawah sambil menahan napas akan meningkatkan tekanan dalam usus bagian bawah serta menyebabkan regangan dan pembengkakan pembuluh darah balik membentukhemorrhoid, terutama jika kebiasaan ini dilakukan secara kontinu dalam jangka lama.



Sebenarnya terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan terkait perkembangan hemorrhoid ini, yaitu peningkatan konsumsi air, sayur dan buah-buahan, asupan suplemen serat (bila perlu), berolahraga, menghindari kebiasaan duduk atau berdiri terlalu lama, tidak mengejan, dsb. Namun tidak satu sumberpun yang memasukkan postur toilet ke dalam poin-poin tersebut. Memang, tidak dapat dipungkiri bahwa setiap hal tersebut adalah penting. Namun bukankah sangat tragis mengetahui bahwa meski penelitian tersebut telah dilakukan lebih dari 20 tahun lalu, masih banyak orang yang tidak waspada dan menyadari akibat dari penggunaan toilet duduk ini.

Sekarang, dengan memahami kaitan antara postur toilet dan insiden hemorrhoid Anda dapat memiliki lebih banyak pengetahuan mengenai metoda efektif menghindari hemorrhoid. Apakah kemudian Anda akan merubah ataupun tetap pada kebiasaan Anda? Pilihan sepenuhnya berada di tangan Anda

Tuesday, 14 May 2013

Kebijakan Gula Indonesia


PERMASALAHAN

Masalah pokok dalam pergulaan nasional adalah rendahnya produksi akibat rendahnya produktivitas dan efisiensi industri gula nasional secara keseluruhan, dimulai dari pertanaman tebu hingga pabrik gula. Semakin menurunnya luas areal dan produktivitas tebu yang dihasilkan petani serta rendahnya produktivitas pabrik gula serta manajemen pabrik gula yang tidak efisien, adalah pemicu rendahnya produksi gula nasional.
Walaupun demikian, menurunnya produksi gula nasional bukan hanya disebabkan masalah on farm dan ketidak-efisienan pabrik-pabrik gula, tapi juga sangat dipengaruhi kondisi pasar global yang tidak adil, yang mengakibatkan tidak adanya insentif untuk berproduksi.
Rendahnya harga dunia akibat surplus pasokan serta distorsi kebijakan dari negara-negara eksportir, telah merangsang pelaku usaha di dalam negeri untuk lebih memilih membeli gula impor dibandingkan gula produksi domestic. Keadaan ini menyebabkan industry gula domestic menjadi semakin tidak berdaya menghadapi serbuan gula impor yang jauh lebih murah. Kelemahan kebijakan makro ekonomi dan strategi perdagangan regional dan internasional juga merupakan faktor yang menyebabkan, baik industry gula maupun petani tebu harus berhadapan dengan perdagangan gula internasional yang tidak adil.
Ketergantungan pada impor yang semakin meningkat, selain semakin menurunkan pertumbuhan industry gula di dalam negeri, juga merupakan salah satu ancaman terhadap kemandirian pangan Indonesia yang mempunyai penduduk yang besar dengan daya beli yang masih rendah. Mengingat Indonesia merupakan Negara agraris yang memiliki sumber daya alam yang memadai dan mempunyai potensi untuk berproduksi lebih baik dari saat ini,maka perlu adanya suatu kebijakan pengembangan produksi tebu dan industry gula yang komprehensif.

TUJUAN
  1. Meningkatkan produksi dan produktivitas gula
  2. Meningkatkan pendapatan petani tebu
  3. Menciptakan kemandirian gula secara nasional.




PEMBAHASAN
  
Kebijakan Nasional
Pergulaan di Indonesia dimulai pada tahun 1673 yaitu sejak berdirinya pabrik gula tebu pertama di Batavia. Pada tahun 1930, industri gula mengalami masa kejayaan yang di tandai dengan Indonesia sebagai Negara eksportir terbesar kedua setelah Cuba. Pada tahun 1957, pemerintah menasionalisasikan perusahaan-perusahaan asing tersebut permaksud perusahaan gula. Sejak itu industri gula nasional semakin menurun. Pada tahun 1975, pemerintah merencanakan program Intensifikasi Tebu Rakyat (TRI) sebagai salah satu upaya untuk meningkatkan produksi dan produktivitas gula domestik. Sejalan dengan itu, pada tahun 1995, pemerintah memeberikan wewenang kepada bulog untuk mengendalikan ketersedian dan harga bahan pangan pokok termaksud gula.  Tarif bea masuk gula impor pada saat itu ditetapkan sebesar 0 (nol) persen.
Pada tahun 1997/1998, ketika terjadi resensi ekonomi, perekonomian Indonesia banyak dikendalikan oleh Internasional Moneter Fund (IMF). Sebagai salah satu persyaratan dalam Letter of Intent (LoI) IMF adalah membenaskan perdagangan pangan termaksud gula yang selama ini dipegang oleh BULOG. Untuk memenuhi tuntutan itu, maka pemerintah melakukan reformasi di bidang tataniaga gula dengan mengeluarkan Keppres No 45/11/1997 yang membatasi wewenang Bulog hanya untuk komoditas beras dan gula. Pemerintah juga mengeluarkan Inpres No 5/12/1998 tentang pengembangan tebu rakyat yang bertujuan untuk mendorong kemitraan perusahaan gula dengan petani tebu.
Pada tahun 1998, pemerintah mengeluarkan lagi Keppres No. 19/1/1998 yang membatasi wewenang Bulog hanya untuk komoditas beras. Keppres tersebut ditindak lanjuti oleh Kepmen Perindustrian dan Perdagangan No. 25/1/1998 dan No. 505/10/1998 yang mengatur tataniaga impor gula menurut mekanisme pasar dan oleh importer umum. Di samping itu, melalui Inpres No 5/1/1998, pemerintah menghentikan program pengembangan tebu rakyat dengan alasan untuk membebaskan petani dalam memilih komoditas usahanya.
Maraknya gula impor pada tahun 1999-2000 mendorong pemerintah mengatur harga gula dan tataniaganya. Pada mulai mei 1999, pemerintah melalui Kepmenhutbun No 282/1999 menetapkan harga provenue gula sebesar Rp 2.500/kg dan menyediakan dana talangan sebesar Rp 456 milyar sebagai upaya untuk mengatasi kerugian petani tebu. Pada bulan juni 1999, Kepmenperindag No 505/1998 dicabut dengan alasan untuk menciptakan iklim perdagangan yang berorentasi pasar. Selanjutnya Menperindag mengeluarkan SK No 364/8/1999 yang kembali mengatur tataniaga gula, dimana impor gula hanya dilaksanakan oleh pabrik gula jawa sebagai impor produsen (IP) melalui perijinan. Dalam waktu 4 bulan, keputusan tersebut dicabut kembali melaui Kepmenperindag No 717/12/1999 yang memberlakukan impor gula oleh importer umum. Bersamaan dengan itu, Menteri Keuangan mengeluarkan keputusan No 568/12/1999 yang memberlakukan tarif bea masuk impor sebesar 20% untuk gula tebu dan 25% untuk gula bit yang berlaku sejak 1 januari 2000.
Kebijakan-kebijakan tersebut tetap belum mampu membendung masuknya gula impor, sehingga kemudian pemerintah melalui Kepmenhutbun No 145/6/2000 meningkatkan harga provenue gula petani menjadi sebesar Rp 2.600/kg dengan menyediakan talangan sebesar Rp 859 milyar. Dana talangan tersebut hanya diberikan dalam periode dua tahun, sementara itu masih banyak gula impor yang masuk, khususnya raw sugar, melalui fasilitas keringanan bea masuk 0% yang ditetapkan SK Menkeu No 301/2000.
Sejak awal tahun 2002, harga gula dunia cenderung turun dan menyebabkan banyaknya gula impor yang masuk sehingga harga gula di tingkat petani dalam negeri tertekan. Oleh karena itu, pemerintah kembali mengeluarkan kebijakan-kebijkan untuk mengendalikan impor gula. Pada bulan maret 2002, pemerintah melaui SK Menperindag Nomor 141/MPP/Kep/3/2002 mengendalikan impor gula dengan hanyan mengizinkan impor gula pada Importir Terdaftar yang memiliki NIPIK dan diikuti dengan SK Menperindag No 456/6/2002 yang menegaskan bahwa hanya Importer Produsen yang dapat melakukan impor gula mentah. Dengan bertujuan untuk menjaga stabilitas harga gula didalam negeri dana untuk menyelamatkan sejumlah pabrik gula, Menteri Keuangan melalui Kepmenkeu No 324/7/2002 menetapkan tarif bea masuk impor gula menjadi Rp 550,-/kg untuk raw sugar dan Rp. 700,-/kg untuk gula putih. Upaya untuk memperketat masuknya gula impor juga didukung dengan Intruksi Dirjen Bea dan Cukai No INS-07/BC/2002 mengintruksikan bahwa beras, terigu dan gula masuk jalur merah.
Ternyata kebijakan-kebijakn tersebut juga tetap tidak dapat memperbaiki asib petani, sehingga Menperindag kembali mengeluarkan SK Nomor 643/9/2002 pada bulan September 20002 untuk mengendalikan impor dengan membatasi impor gula putih hanya dengan importir terdaftar yang bahan bakunya lebih dari 75% berasal dari petani. Beberapa perusahaan yang memenuhi syarat tersebut adalah PTPN IX,X,XI, PT.RNI, PT. PPI dan Perum Bulog (sebagai pengelola). Operasional dari kebijakan tersebut kemudian dituangkan dalam nota kesepahaman tentang penyerapan gula pasir produksi PTPN IX, X, XI dan PT. RNI, pada tanggal 3 juni 2003. Melalui kesepakatan tersebut, para petani tebu mendapat dana talangan dari investor sebesar Rp. 3.410/kg gula dan untuk selanjutnya akan menerima 64% dari selisih harga final dengan dana talangan tersebut. Jika harga yang terjadi dibawah sama dengan harga patokan, maka seluruh gula wajib dibeli Bulog dengan harga sesuai dengan patokan. Melaui cara tersebut, berkembang proses negoisasi kolektif yang melibatkan lembaga pemerintah dan swasta. Dimana Bulog menyediakan dana bagi PTPN/RNI dan bagi petani melaui PTPN/RNI yang cukup untuk meyerap sekitar 25%dan total perkiraan produksi gula PTPN/RNI sesuai dengan harga patokan. Gula dijual dengang mekanisme lelang yang disepakati bersama.
Sejalan dengan kebijakan diatas, dalam upaya untuk memenuhi kebutuhan konsumsi gula dalam negeri, pemerintah ,menggulirkan program akselerasi peningkatan produktivitas gula nasional 2002-2007 dengan sasaran kenaikan produksi rata-rata sebesar 9,8 pertahun, sehingga diharapkan pada tahun 2007 produksi gula nasional mencapai 2,97 juta ton atau sudah mendekati kapasitas terpasang pabrik sebesar 3 juta ton pada areal pertanaman seluas 380.775 ha. Disamping itu, untuk menyikapi ketidakadilan pasar dan perdagangan internasional, pemerintah indonesia juga menerapkan kebijakan proteksi dan promosi secara simultan. Kebijakan promosi yang telah diterapkan antara lain berupa : subsidi bungan dalam KKP-TR sekitar Rp 900 milyar, subsidi pupuk sebesar Rp 1,3 triliun untu berbagai komoditas termasuk tebu, dukungan prasrana pengairan sebesar Rp 4,5 triliun, dukungan permodalan bagi koperasi tebu untuk pembongkaran ratoon, pembangunan kebun bibit, dan prasarana pengairan sederhana sebesar Rp 66,8 milyar, dan dukungan dana penyehatan lembaga penelitian dan pengembangan.
Dalam rangka meningkatkan kepastian berusaha serta meningkatkan daya saing produksi dalam negeri, tim tarif nasional melaksanakan program harmonisasi tarif tahun 2005-2010 untuk produk-produk dalam negeri. Melalui peraturan Menteri Keuangan No. 591/PMK.010/2004, tarif gula tahun 2005-2010 ditetapkan dalam pola khusus, sebesar 30 persen untuk gula mentah dan 40 persen untuk gula putih, dan melalui peraturan Menteri Keuangan No. 600/PMK.010/2004, berlaku mulai tanggal 1 januari 2005, tarif bea masuk gula putih ditetapkan menjadi sebesar Rp 790/kg dan gula mentah Rp 550/kg.


KESIMPULAN & SARAN
  
Walaupun kebijakan yang dikeluarkan pemerintah dipandang pro-petani, tetapi banyak pihak melihatnya sebagai kebijakan parsial (tidak komprehensif), bersifat reaktif yang dikeluarkan ketika terjadi masalah, dan kurang jelas keterkaitannya antara satu sector dengan sector lain dalam kerangka pengembangan industry gula yang efisien.
Dalam upaya peningkatan pangan nasional, khususnya  untuk komoditas gula, diperlukan kebijakan yang komprehensif yang meliputi berbagai subsistem: on-farm (hulu) maupun off-farm (hilir), agar tercapai keseimbangan kesejahteraan antara petani produsen dan konsumen. Upaya-upayayang perlu dilakukan mencakup:
A.    Subsitem Hulu
Ø  Mencari/mengembangkan bibit unggultebu yang dapat berproduksi tinggi pada lahan kering marginal, lahan gambut, dan lahan psang surut. Walaupun produktivitas tebu kita cukup baik dibandingkan dengan berbagai negaraprodusen, keunggulan bersaiang gula dimasa depan masih sangat ditentukan oleh produktivitas tebu.
Ø  Meningkatkan dan mempertahankan areal pertanaman tebu. Dengan tingkat produktivitas sebesar 5, 82 ton/ha diperlukan sekitar 600.000 ha areal tebu dengan memanfaatkan potensi lahan di luar pulau jawa, baik lahan kering maupun lahan basah.
Ø  Peningkatan Kredit Ketahanan Pangan (KKP) bagi petani tebu. Fasilitasi pemerintah dalam penyediaan KKP telah banyak dinikmati petani tebu. Ke depan harus diperjuangkan peningkatan KKP tersebut.

B.     Subsistem Budidaya
Ø  Meningkatkan produktivitas lahan, melalui penggunaan bibit tebu unggul berkualitas, serta rehabilitasi/[embaharuan pertanaman tebu lama melalui bongkar ratton. Dengan luas areal tanam sekarang ini produktivitas secara bertahap harus ditingkatkan menjadi sedikitnya 90 ton tebu/ha. Sertifikasi lahan petani tebu perlu lebih ditingkatkan, agar lahan dapat berfungsi sebagai capital untuk investasi usahatani tebu.
C.     Subsistem Hilir
Ø  Peningkatan efisiensi hilir dapat dilakukan dengan merahbilitasi dan memodernisasi pabrik-pabrik gula yang telah tua. Untuk itu diperlukan kebijakan investasi bai bagi para pengusaha pabrik gula maupun petani tebu dengan memberikan kemudahan akses kepada lembaga keuangan/investor, dan keringanan pajak ipor peralatan pabrik gula.
Ø  Pengembangan industry pergulaan nasional dalam rangka pengembangan industry berbasistebu, dimana pengembangan pabrik gula dilakukan bersama-sama dengan pengembangan industry lainnya seperti alcohol, gula tetes dan lain-lain. Peranan investor sangat menentukan upaya ini.
Ø  Penentuan harga beli tebu oleh pabrik gula, yang didsarkan pada rendemen tebu petani, serta pengalokasian saprodi khusunya yang berasal dari bantuan program kemitraan (kredit kemitraan), perlu dilakukan secara jujur dan transparan.
Ø  Mengendalikan impor (bea masuk, tataniaga) dan penyelundupan gula.
Ø  Asosiasi kelompok tani tebu, perlu lebih memperjuangkan bargaining posisi petani khusunya dalam penentuan harga tebu, rendemen serta pendistribusian saprodi yang berasal dari bantuan program kemitraan pabrik gula dan petani.
Ø  Untuk melaksanakan berbagai upaya diatas, perlu dilakukan secara terkoordinasi antar berbagai sector/instansi terkait.


DAFTAR PUSTAKA


Anonymous, 2002. Studi Pengembangan Agribisnis Pergulaan Nasional. Proyek Pengembangan Kawasan Industri Masyarakat Perkebunan Pusat, Direktorat Jenderal Bina Produksi Perkebunan, Departemen Pertanian bekerjasama dengan Lembaga Penelitian Institut Pertanian Bogor. Jakarta
_________,2004. Luas Areal dan Produksi Gula di Indonesia Tahun 1993 – 2004, Sekretariat Dewan Gula Indonesia, Jakarta.
Bakrie, F., 2004. Kondisi Terkini Industri Gula dan Strategi Mengatasi Kendala Yang Ada, Asosiasi Gula Indonesia, Jakarta.
Departemen Kehutanan dan Perkebunan, 1999. Tinjauan Perkembangan Industri GUla Tebu Nasional dan Kebijakannya. Sekretariat Dewan Gula Indonesia – Dirjen Perkebunan,Jakarta
Departemen Keuangan, 2004. Perubahan-Perubahan Klasifikasi dan Penetapan Kembali Tarif Bea Masuk Produk-produk Pertanian, Perikanan, Pertambangan, Farmasi, Keramik dan Besi Baja. Salinan Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia No. 600/KMK.010/2004.
Departemen Pertanian, 2004. Dua Tahun Program Akselerasi Peningkatan Produktivitas Gula Nasional, Direktorat Jenderal Bina Produksi Perkebunan, Jakarta.